Buya Hamka, Ulama Tahan ‘Banting’


M

Beliau ialah Al Ustadz ‘Abdul Malik bin ‘Abdul Karim bin Amrullah Al Fadani Al Indunisirahimahullah. Seorang ulama yang juga terlahir dari keluarga yang serat dengan ilmu dan keagamaan. Ayahnya, Syaikh ‘Abdul Karim Amrullah, adalah salah seorang ulama kenamaan yang pernah nyantri kepada Syaikh Ahmad bin ‘Abdullathif Al Khothib Al Jawi rohimahullah di Makkah.

Saya tidak akan membicarakan perjalanannya dalam menuntut ilmu, namun karirnya ketika menjabat sebagai ketua MUI pertama sejak pertama kali didirikan.

Sikap dan pendiriannya yang kuat dalam menegakkan kebenaran mendapatkan sambutan negatif dari pak presiden saat itu. Ya, tepatnya ketika beliau mengeluarkan fatwa haramnya mengucapkan selamat dan ikut-ikut hari raya umat Nasrani, Natal.

Sebagai seorang ulama yang dipengaruhi gurunya yang perpendirian kuat, Hamka menunjukkan kepiawiannya dalam mengeluarkan fatwa.

Fatwanya yang membuat ‘perpecahan’ di kalangan masyarakat Indonesia, mendapat perhatian dari pak presiden. Pak presiden mengeluarkan titah agar fatwa itu dicabut karena menimbulkan perpecahan antar masyarak Indonesia yang majmuk itu. Melihat kenyataan ini Hamka menyadari bahwa ia bukanlah anak kecil, ia adalah ulama panutan umat yang tentunya pemegang ‘kendali’ keselamatan umat juga. Ia sadar, yang haq harus dikatakan haq meski pahit rasanya dan ditentang banyak orang, dan yang batil juga harus diteriakkan batil meski mayoritas manusia menyukainya.

“Sekiranya bukan karena ulama, pastilah manusia laksana hewan ternak,” demikian kata Al Hasan Al Bashri. Rasanya Hamka tahu betul kata-kata dari sang imam ini.

Pengucapan hari natal dari seorang muslim kepada orang nasrani adalah tindakan yang jelas-jelas keliru ditinjau di sagala sudut. Oleh karena itu, ia lebih baik memilih untuk mengundurkan diri dari jabatan MUI daripada harus mencabut fatwanya itu dan justru malah timbul kekufuran dan kemungkaran.

Ya, Hamka tidak terlena dengan kedudukan dan jabatannya. Ia juga tidak disilaukan gaji yang diterimanya. Ia hanya ingin membawa umat ini menuju kebaikan dan kebenaran. Dan bagiku, Hamka adalah sosok ulama yang mau berjuang menegakkan kebenaran di bumi Indonesia.

Terlepas dari segala kekurangannya, Hamka adalah sosok yang dirindukan banyak kalangan. Ketegasannya, keuletannya, keberaniannya, ketekunannya, kepiawiannya, kegigihannya, kecakapannya, ketulusannya, ketawaduannya, dan ke ke yang lainnya.

Kapan lagi MUI di negeri ini mendapat pemimpin yang sedemikian cakap? Ya, cakap dalam menangani problematika umat. Tidak silau oleh harta dan juga kedudukannya. Akankah sejarah itu terulang kembali?

Saatnya Anda memikirkannya. Sejauh mana pengorbananmu untuk Islam dan kaum muslimin? Mulailah dari sekarang! Bersiaplah menghadapi tantangan dan bersabarlah menghadapi rintangan. Dan siaplah memperoleh keberhasilan…

Kiranya dari riwayat keberanian Buya Hamka yang telah kita paparkan di atas, pantaslah menjadi cermin dan teladan MUI. Terutama ketika tuntutan untuk mengeluarkan fatwa pornografi dan penegasan terkait sesat dan bahkan sekte Syi’ah Rafidhah yang pada akhir-akhir ini semakin berani menampakkan hidungnya dengan bersembunyi di balik cinta Ahlul Bait. Padahal jika sedikit saja diperhatikan tentang seluk-beluk perjalanan Syi’ah Rafidhah ini, mereka justru mengkafirkan seluruh Ahlul Bait, tidak terkecuali Amirul Mukminin ‘Ali bin Abu Thalib –radhiyallahu ‘anhu wa ardhah-.

Sepantasnya dalam mengeluarkan fatwa-fatwa yang jelas kebenarannya, tidak layak ditunda-tunda apalagi diragu-ragukan, sebelum nasi menjadi bubur.

Semoga Allah Jalla wa ‘Ala menjaga negeri ini dan seluruh negeri kaum muslimin dari kebejatan sekte terlaknat Syi’ah Rafidhah dan semisalnya.

Ya Allah, Engkaulah Dzat yang maha mengabulkan doa…

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s