Fadhilah Mempelajari Ilmu Syariat (Bag. 1)


طلب العلم

Ketahuilah –semoga Allah merahmati penulis dan anda-, bahwa dalil-dalil yang menyebutkan tentang keagungan dan keutamaan ilmu dan pemiliknya sangatlah banyak. Oleh karena itu tidak mungkin semua dalil-dalil itu kita sebutkan semua di sini, akan tetapi cukup bagi orang berakal sekelumit darinya yang akan menjadikannya bersemangat dan antusias mendapatkan dan menggalinya.

Dalil-dalil dari Al-Quran Al-‘Azhim

  • Allah Ta’ala berfirman:

وَقُل رَّبِّ زِدْنِي عِلْمًا

“Dan katakanlah, wahai Rabbku, tambahkanlah ilmuku.”[1]

Allah Subahanahu wa Ta’ala tidak menyuruh Nabi-Nya –shallallahu ‘alaihi wa sallam– untuk meminta tambahan dari sesuatu kecuali ilmu. Dan yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu syar’i yang bermanfaat bagi hamba untuk mengetahui Rabb-nya dan mengetahui apa wajib atas mukallaf berupa perkara agama dalam ibadah & muamalat.[2]

  • Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

“Allah mengankat orang-orang yang beriman di antara kalian dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui terhadap apa yang kalian lakukan.”[3]

‘Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan, “Para ulama itu di atas orang-orang mukmin seratus derajat. Selisih kedua derajat adalah perjalanan 100 tahun.”[4]

  • Allah berfirman:

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ وَالْمَلَائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ ۚ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”[5]

Allah Subhanah memulai dengan diri-Nya, kemudian para Malaikat, dan kemudian ahli ilmu. Maka itu sudah cukup menjadi bukti kemuliaan, keutamaan, keagungan, dan kehormatan.[6]

  • Allah Jalla wa ‘Ala berfirman:

وَتِلْكَ الْأَمْثَالُ نَضْرِبُهَا لِلنَّاسِ ۖ وَمَا يَعْقِلُهَا إِلَّا الْعَالِمُونَ

“Itulah permisalan-permisalan yang Kami buat untuk manusia. Dan tidak ada yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”[7]

  • Firman Allah:

بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ

Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu.”[8]

Dalam sebuah hadits dinyatakan, “Sekiranya Al-Quran itu di letakkan dalam bejana, api pun tidak akan membakarnya.”

  • Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ

“Orang yang takut kepada Allah hanyalah para ulama (orang yang berilmu).”[9]

Ilmu yang bermanfaat memiliki buah yang agung, yang paling nampak ialah terwujudnya rasya kasy-yah[10] kepada Allah Subahanah dalam diri pemilinya[11] . Maka para ulama adalah manusia yang paling khasy-yah kepada Rabb-nya karena mereka mempelajari ilmu yang menambah makrifat mereka terhadap Rabb mereka dan menjadikan iman semakin menancap pada hati mereka.[12]

  • Firman Allah Ta’ala:

إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أُولَٰئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ جَزَاؤُهُمْ عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتُ عَدْنٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا أَبَدًا ۖ رَّضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ ۚ ذَٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهُ

Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.[13]

Konsekuensi kedua ayat ini bahwa para ulama ialah mereka yang takut kepada Allah Ta’ala dan bahwa orang-orang yang takut pada Allah Ta’ala adalah sebaik-baik makhluk. Maka jadilah para ulama itu sebaik-baik makhluk.[14]

  • Allah Ta’ala berfirman:

يُؤْتِي الْحِكْمَةَ مَن يَشَاءُ ۚ وَمَن يُؤْتَ الْحِكْمَةَ فَقَدْ أُوتِيَ خَيْرًا كَثِيرًا ۗ وَمَا يَذَّكَّرُ إِلَّا أُولُو الْأَلْبَابِ

Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).[15]

Mujahid –rahimahullah– menjelaskan tentang makna hikmah, “Yaitu Al-Quran, ilmu, dan fiqih.”[16]

Abu Ja’far bin Jarir Ath-Thabari –rahimahullah– berkata, Yunus telah bercerita pada kami, ia berkata, Ibnu Wahb berkata, ia berkata, “Aku bertanya kepada Malik, ‘Akah hikmah itu?’ Beliau menjawab, ‘Mengetahui agama, memahaminya, dan mengikutinya.”

  • Allah berfirman:

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَاسْتَغْفِرْ لِذَنبِكَ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ

“Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah dan mintakanlah ampun untuk orang-orang mukmin yang laki-laki dan yang perempuan.”[17]

Maka Allah mendahulukan ilmu daripada tindakan, sebagaimana kata Al-Bukhari[18], “Bab ilmu sebelum perkataan dan tindakan.”

  • Allah Subhanah berfirman:

قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Katakanlah, apakah sama antara orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui? Hanya orang-orang berakallah yang dapat menerima pelajaran.”[19]

            Allah Ta’ala telah membedakan antara anjing yang berilmu dengan anjing yang tidak berilmu. Tidakkah kita ingat bahwa anjing yang terlatih dengan anjing yang tidak terlatih berbeda hukumnya ketika dipakai untuk berburu? Allah mengatakan:

يَسْأَلُونَكَ مَاذَا أُحِلَّ لَهُمْ ۖ قُلْ أُحِلَّ لَكُمُ الطَّيِّبَاتُ ۙ وَمَا عَلَّمْتُم مِّنَ الْجَوَارِحِ مُكَلِّبِينَ تُعَلِّمُونَهُنَّ مِمَّا عَلَّمَكُمُ اللَّهُ ۖ فَكُلُوا مِمَّا أَمْسَكْنَ عَلَيْكُمْ وَاذْكُرُوا اسْمَ اللَّهِ عَلَيْهِ ۖ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Mereka bertanya kepadamu (Muhammad), “Apakah yang dihalalkan bagi mereka?” Katakanlah, ‘Yang dihalalkan bagimu (adalah makanan) yang baik-baik dan (buruan yang ditangkap) oleh binatang pemburu yang telah kamu latih untuk berburu, yang kamu latih menurut apa yang telah diajarkan Allah kepadamu. Maka makanlah apa yang ditangkapnya untukmu dan sebutlah nama Allah (waktu melepasnya). Dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah cepat perhitungannya.”[20]

Maka hewan pemburu yang terlatih boleh dikonsumsi hasil buruannya, sementara hewan yang tidak terlatih tidak boleh dikonsumsi hasil buruannya. Jika hewan saja demikian dibedakan, bagaimana pula dengan manusia yang merupakan makhluk terbaik. Tentu sangat lebih pantas lagi perbedaannya.


[1] QS Thaha: 114.

[2] Fat-h Al-Bari syarh Shahih Al-Bukhari, karya Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani (I/141)

[3] QS Al-Mujadalah: 11.

[4] Tadzkirah As-Sami’ wa Al-Mutakallim fi Adab Al-‘Alim wa Al-Muta’allim, karya Ibnu Jama’ah Al-Kinani (hlm. 27). Juga disebutkan secara makna oleh Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulum Ad-Din (I/5).

[5] QS Alu ‘Imran: 18.

[6] Tadzkirah As-Sami’ wa Al-Mutakallim (hlm. 27).

[7] QS Al-‘Ankabut: 43.

[8] QS Al-‘Ankabut: 49.

[9] QS Al-Fathir: 28.

‘Abdurrazzaq –rahimahullah- berkata, “Aku tidak melihat seseorang yang lebih baik shalatnya dari Juraij. Jika aku melihatnya, aku tahu bahwa ia takut kepada Allah.”

[10] Khasy-yah adalah rasa takut yang disertai pengagungan. Berbeda dengan khauf yang hanya semata-mata takut.

[11] Yaitu pemilik ilmu atau ulama.

[12] Adab Thalib Al-‘Ilm (hlm. 13), karya Dr. Ahmad Karzun.

[13] QS Al-Bayyinah: 6-7.

[14] Tadzkirah As-Sami’ wa Al-Mutakallim (hlm. 29).

[15] QS Al-Baqarah: 269.

[16] Ma’alim At-Tanzil, karya Al-Baghawi ketika mentafsirkan ayat ini.

[17] QS Muhammad: 19.

[18] Shahih Al-Bukhari, Kitab Al-‘Ilm, Bab Al-‘Ilm Qabl Al-Qaul wa Al-‘Amal.

[19] QS Az-Zumar:  9.

[20] QS Al-Maidah: 4.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s