Fadhilah Mempelajari Ilmu Syariat (Bag. 3)


كتاب

Sebenarnya motivasi-motivasi mempelajari ilmu syariat yang termaktub dalam Al-Quran dan As-Sunnah sudah sangat mencukupi bagi orang yang berakal. Mencukupi bagaimana? Mencukupi baginya agar senantiasa semangat dan antusias dalam mempelajari ilmu syariat. Bagaimana tidak, sedangkan itu semua berasal dari Rabbul ‘alamin yang tak ada sedikit pun kebatilan maupun keraguan di dalamnya.

Namun demikian, tidak sedikit kita jumpai ulama-ulama Islam, baik dulu maupun kini, mengutarakan-petuah-petuah dan motivasi-motivasi serta dorongan agar kita, kaum muslimin, semangat dalam menempuh jalan menuntut ilmu ini. Boleh dikata, tidaklah ada seorang ‘alim pun, kecuali ia mendorong kepada seluruh kaum muslimin, tanpa terkecuali, untuk tidak saja diam diri menyaksikan banyaknya orang yang mengaku muslim namun tidak mengetahui hakikat kemuslimannya itu.

Oleh sebab itu perlu ditegaskan bahwa urgensi mempelajari ilmu syariat ini termasuk benteng kita dari para tukang tipu dan pembohong yang memasarkan omongkosongnya di tengah keramaian orang-orang bodoh. Semakin masyarak cerdas, semakin ‘dagangan’ mereka terabaikan dan akhirnya pun mereka hanya dijadikan bahan tertawaan.

Dan berikut di antara pernyataan ulama Islam yang sengaja penulis ringkas karena keterbatasan tempat dan ruang. Hanya kepada Allah sajalah penulis memohon pertolongan dan taufiq.

Kesaksian dari Para Ulama Salaf

 

  • Umar bin Al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu– berkata, “Sungguh, kematian seribu ahli ibadah itu lebih ringan daripada kematian seorang yang berilmu yang mengetahui haram dan halalnya Allah.”

 

Ibnul Qayyim –rahimahullah– menjelaskan, “Sisi perkataan ‘Umar ini adalah bahwa seorang yang berilmu (baca: ‘alim) ini dengan ilmu dan arahannya merobohkan setiap bangunan yang dibangun Iblis. Adapun ahli ibadah, maka manfaatnya hanya sebatas dirinya saja.”[1]

 

  • ‘Ali bin Abu Thalib –radhiyallahu ‘anhu– menuturkan, “Ilmu itu lebih baik daripada harta. Ilmu itu akan menjagamu dan kamu akan menjaga harta. Ilmu itu hakim dan harta adalah yang dihukumi. Pemilik perbendaharaan ilmu pasti mati dan pemilik perbendaharaan ilmu akan tetap ada. Mereka memang mati namun kepribadian mereka dalam hati tetap ada.”[2]

 

  • Dari Mu’adz bin Jabal –radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata, “Pelajarilah ilmu, karena mempelajarinya merupakan khasy-yah, menuntutnya adalah ibadah, mengulang-ngulangnya adalah tasbih, membahasnya adalah jihad, mengajarkannya kepada orang yang tidak mengetahuinya adalah sedekah, mencurahkannya untuk ahlinya adalah qurbah (baca: mendekatkan diri kepada Allah) karena ia adalah penunjuk halal dan haram dan menara jalan-jalan penghuni surga. Dia adalah   …penunjuk pada kesenangan dan kesusahan, senjata untuk melawan musuh, perhiasan untuk para pencinta. Dengannya Allah mengangkat segolongan orang dan menjadikan mereka berada pada kebaikan sebagai pemimpin dan imam…”[3]

 

  • ‘Umar bin Al-Khaththab –radhiyallahu ‘anhu– mengatakan, “Sesungguh, seseorang keluar dari rumahnya sedang pada dirinya terdapat dosa sebesar gunung Tihamah. Namun tiba-tiba ia mendengar suatu ilmu, ia pun merasa takut dan kembali serta bertaubat. Ia kembali ke rumahnya sedangkan padanya sudah tidak ada dosa. Oleh karena itu, janganlah kalian memisahkan diri dari majlis para ulama.”[4]

 

  • ‘Abdullah bin Mas’ud –radhiyallahu ‘anhu– menyatakan, “Pelajarilah ilmu sebelum dicabut. Dan dicabutnya adalah dengan kematian para ulama. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh seseorang yang terbunuh di jalan Allah sebagai syahid berangan-angan dibangkitkan sebagai ulama karena mereka mengetahui kemuliaan mereka. Dan sesungguhnya seseorang itu tidak dilahirkan dalam keadaan berilmu. Sedangkan mendapatkan ilmu itu dengan belajar.”[5]

 

  • Abu Ad-Darda’ –radhiyallahu ‘anhu– menuturkan, “Aku mempelajari suatu permasalahan lebih kusukai daripada shalat malam.”[6]

 

  • Dari Al-Hasan Al-Bashri –radhiyallahu ‘anhu-, beliau menuturkan, “Aku mempelajari suatu bab ilmu kemudian kuajarkan kepada seorang muslim, itu lebih kusukai daripada aku memiliki dunia seluruhnya (yang kubelanjakan) di jalan Allah.”[7]

 

  • Beliau –rahimahullah– juga menyatakan, “Sekiranya bukan karena ulama, tentu manusia bagaikan hewan ternak.”[8]

 

  • Dari Abu Muslim Al-Khaulani –rahimahullah-, beliau menyatakan, “Perumpamaan ulama-ulama di bumi itu laksana bintang-bintang di langit. Jika ia (bintang) menampakkan untuk manusia, mereka memperoleh petunjuk dengannya, namun jika tidak nampak, mereka akan kebingungan.”[9]

 

  • Imam kita, Imam Asy-Syafi’i –radhiyallahu ‘anhu-, mengatakan, “Tidak ada sesuatu setelah kewajiban yang lebih afdhal daripada menuntut ilmu.”[10]

Beliau juga mengatakan, “Siapa yang menginginkan dunia, haruslah dengan ilmu, dan siapa yang menginginkan akhirat, maka seharusnya dengan ilmu.”[11]

 

  • Adalah ‘Atha bin Abu Rabbah –rahimahullah– merupakan seorang budak (baca: hamba sahaya) milik wanita penduduk Makkah. Seakan-akan hidungnya bagaikan kacang. Datanglah Sulaiman bin ‘Abdul Malik, seorang amirul mukminn, bersama kedua anaknya menemui ‘Atha dan mereka duduk di sisinya sedangnya ia tengah menunaikan shalat. Usai shalat, ia menghadap mereka[12], mereka terus bertanya padanya tentang manasik haji sedangkan tengkuknya sudah berbalik pada mereka. Selanjutnya Sulaiman berkata kepada kedua anaknya, “Berdirilah!” Keduanya pun berdiri. “Wahai ankakku,” kata Sulaiman, “Janganlah kalian lalai dari menuntut ilmu, karena sesungguhnya aku tidak melupakan kerendahan kita di hadapan budak hitam ini.”[13]
  • Berkata Asy-Syafi’i –rahimahullah-, “Dulu aku membuka lembaran kertas dengan sangat lembut di hadapan Malik karena kewibawaannya aga beliau tidak mendengar lembaran ang dibuka.”[14]

 

  • Sebagian guru kami menceritakan bahwa ketika Ar-Razi berbicara, para hadirin tidak ada yang berani bernafas karena kewibawaannya.

 

  • Berkata Shal bin ‘Abdullah At-Tasturi –rahimahullah-, “Siapa yang ingin melihat majlis para Nabi –‘alaihimussalam-, hendaknya ia melihat majlis para ulama.”[15]

 

  • Dari Al-Fadhl bin Dukain, ia berkata, aku mendengar Abu Hanifah mengatakan, “Jika para ulama dan ahli fiqih bukan wali-wali Allah di dunia dan akhirat, maka berati Allah tidak punya wali.”[16]

 

  • Dari Ar-Rabi’ bin Sulaiman, ia berkata, aku mendengar Asy-Syafi’i mengatakan, “Sekiranya para ahli fiqih bukan wali Allah di akhirat, maka berati Allah tidak memiliki wali.”[17]

 

  • Dari Al-Muzani, aku mendengar Asy-Syafi’i berkata, “Siapa yang mempelajari Al-Quran nilainya membesar, siapa yang merenungkan fiqih cerdik miqdarnya, siapa yang mempelajari bahasa’Arab tabiatnya yang menjadi lembut, siapa yang merenungi ilmu hitung … pikirannya, siapa yang menulis hadits hujjahnya akan kuat, siapa yang tidak menjaga dirinya tidak akan bermanfaat ilmunya.”[18]

 

Ini hanyalah sekelumit tentang kemuliaan dan kedudukan ilmu dan pemiliknya. Di sana masih banyak lagi dalil dan bukti yang menjadi saksi keagungan dan ketinggian ilmu dan ulama. Sekiranya dikumpulkan dalam sebuah kitab, tentu akan menjadi sangat besar.

Berikut akan saya sebutkan beberapa kitab yang bisa dijadikan sebagai refrensi dalam mengetahui keutamaan ilmu, adab, dan cara memperolehnya[19]:

  1. Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih, karya Al-Khathib Al-Baghdadi.
  2. Ta’lim Al-Muta’allim fi Thariq At-Ta’allum, karya Burhanuddin Az-Zarnuji.
  3. Adab Ath-Thalab, karya Asy-Syaukani.
  4. Fadhl ‘Ilm As-Salaf ‘ala Al-Khalaf, karya Ibnu Rajab.
  5. Jami’ Bayan Al’Ilm wa Fadhlih, karya Ibnu ‘Abdil Barr.
  6. Tadzkirah As-Sami’ wa Al-Mutakallim fi Adab Al-‘Alim wa Al-Muta’allim, karya Ibnu Jama’ah.
  7. Hilyah Thalib Al’Ilm[20], karya Bakr bin ‘Abdullah Abu Zaid.
  8. Kitab Al’Ilm, karya Ibnu ‘Utsaimin.
  9. Ma’alim fi Thariq Thalab Al-‘Ilm, karya ‘Abdul ‘Aziz bin As-Sad-han.
  10. Fadhl Al’Ilm wa Adab Thalabih, karya Muhammad bin Ruslan.
  11. An-Nubadz fi Adab Thalab Al-‘Ilm, karya Hamd bin Ibrahim Al-‘Utsman.

 

Berikut akan saya sarikan beberapa adab yang selayaknya diketahui oleh seluruh penuntut ilmu agar nantinya ketika ia menuntut ilmu akan memperoleh berkah dan kebaikan yang lebih banyak dan tidak menyesal sedikitnya ilmu yang ia peroleh ketika bermajlis karena kurangnya adab yang ia miliki.


[1] Miftah Dar As-Sa’adah (I/397).

[2] Adab Ad-Dunya wa Ad-Din (hlm. 48), karya Imam Abu Al-Hasan Al-Mawardi (wafat 450). Disebutkan pula oleh An-Nawawi dalam Al-Majmu’ dengan tanpa menyebutkan penucapnya dan hanya, “Ilmu itu menjagamu dan kamu menjaga harta. Ilmu itu membelamu sedangkan harta, kamulah yang membelanya.”

[3] Al-Majmu’ syarh Al-Muhadzdab (I/41)

[4] Miftah Dar As-Sa’adah (I/77), karya Imam Ibnu Qayyimil Jauziyyah.

[5] Miftah Dar As-Sa’adah (I/397).

[6] Miftah Dar As-Sa’adah (I/122).

[7] Al-Majmu’ syarh Al-Muhadzdzab (I/21), karya Imam Abu Zakariya Yahya bin Syaraf An-Nawawi Asy-Syafi’i (wafat 676).

[8] Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin (hlm. 22).

[9] Al-Majmu’ syarh Al-Muhadzdzab (I/41).

[10] Muqaddimah Al-Minhaj syarh Shahih Muslim bin Al-Hajjaj (I/12), karya Imam Abu Zakariya An-Nawawi.

[11] Perhatian! Tidak sedikit penceramah dan khathib yang menisbatkan perkataan ini kepada Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– dengan tidak hanya sampai di sini, akan tetapi ditambah dengan pernyataan, “Dan siapa yang menginginkan keduanya, maka harusnya dengan ilmu.” Maka penisbatan semacam ini adalah penisbatan yang bathil dan keliru karena ini adalah pernyataan Imam Asy-Syafi’i. Dikhawatirkan orang yang menisbatkannya pada Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam– termasuk dalam ancaman, “Siapa yang berdusta atas namaku secara sengaja, hendaknya ia mempersiapkan tempat duduknya di neraka.” Juga masuk dalam kategori, “Siapa yang menceritakan sebuah hadits yang disangka dusta (dalam riwayat lain: diyakini)*, maka ia termasuk dari para pendusta (atau: salah satu dari dua pendusta).”

[12] Yaitu jama’ah yang ada di sekelilingnya yang menantinya sebelumnya.

[13] Shahih Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih (hlm. 18).

[14] Bandingkan hal ini dengan para penuntut ilmu dewasa ini. Sebagian mereka justru biasa membalas sms, telphone, dan tindakan-tindakan rendahan lainnya ketika pelajaran dan taklim tengah berlangsung. Wallahulmusta’aan wa ‘alaihit tiklan.

[15] Shahih Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih (hlm. 21).

[16] Shahih Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih (hlm. 21).

[17] Shahih Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih (hlm. 21).

[18] Shahih Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih (hlm. 21-22).

[19] Sebagiannya disarankan Syaikh Bakr bin ‘Abdullah Abu Zaid dalam Al-Hilyah.

[20] Pada beberapa pecan yang lalu kitab ini dibahas Syaikhuna Ahmad Al-Jailan dalam sebuah daurah. Juga telah disyarah Syaikhuna Badr bin ‘Ali bin Thami Al-‘Utaibi yang sudah direkam. Walhamdulillah.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s