Fadhilah Mempelajari Ilmu Syariat (Bag. 2)


DH163318

Dalam pada tulisan sebelumnya, telah dipaparkan dengan penjelasan ringkas terkait fadhilah mempelajari ilmu syariat yang tak lain merupakan pokok kebahagian seorang insan di dunia dan akhirat. Dalil-dalil yang telah penulis bawakan itu semuanya diambil dan dipetik dari Kitab Allah, Al-Quran. Nah, pada bagian kedua ini, penulis mengajak pembaca yang budiman menilik dalil-dalil yang ada dalam Sunnah.

Pada gilirannya pembaca akan mengetahui bagaimana motivasi yang Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam– kepada umatnya dalam hal menuntut dan mempelajari ilmu syariat. Dan berikut adalah sekelumit darinya.

Dalil-dalil dari Hadits Nabawi

  • Dari Mu’awiyah –radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدَّيْنِ

“Siapa yang Allah kehendaki kebaikan, maka Dia akan membuatnya memahami agama.”[1]

Sebaliknya, siapa yang tidak Allah kehendaki kebaikan, maka Dia tidak menjadikannya memahami agama. Maka orang yang semacam ini akan terhalangi dua kebaikan, yaitu kebaikan dunia yang berarti kebahagiaan dan kebaikan akhirat yang berarti surga.

 

  • Dari Abu Ad-Darda’ –radhiyallahu ‘anhu-, beliau berkata, “Aku telah mendengar Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَطْلُبُ فِيْهِ عِلْمًا، سَلَكَ اللهُ بِهِ طَرِيْقُا مِنَ طُرُقِ الجَنَّةِ، وَ إِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا بِمَا يَصْنَعُ، وَ إِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمواتِ وَمَنْ فِي الأّرْضِ وّ الحِيْتَانِ فِي جَوْفِ المَاءِ، وَ إِنَّ فَضْلَ الْعَالِمِ عَلَى الْعَابِدِ كَفَضْلِ الْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ عَلَي سَائِرِ الْكَوَاكِبِ، وَ إِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ، وَ إِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَ لَا دِرْهَمًا، إِنَّمَا وَرَثُوْا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ

“Siapa yang menempuh suatu jalan untuk menuntut ilmu di dalamnya, Allah akan tempuhkan salah satu jalan ke surga dengannya. Dan sesungguhnya para Malaikat akan meletakkan sayapnya sebagai bentuk keridhaan terhadap apa yang mereka lakukan. Dan sesungguhnya seorang yang berilmu akan dimintai ampunan oleh penduduk langit dan bumi serta ikan yang berada di dalam air. Dan sungguh, keutamaan orang yang berilmu atas ahli ibadah adalah seperti keutamaan rembulan pada bulan purnama atas seluruh bintang. Dan sesungguhnya para ulama merupakan pewaris para Nabi –‘alaihimussalam-. Dan sungguh para Nabi –‘alaihissalam- tidak mewariskan dinar dan tidak pula dirham, namun mereka mewariskan ilmu. Maka siapa yang mengambilnya, berarti ia telah mengambil suagu bagian yang melimpah.”[2]

Dalam hadits yang mulia ini disebutkan sejumlah keutamaan dan keagungan ilmu dan pemiliknya yang dapat kita simpulkan sebagai berikut:

  1. Dimudahkannya jalan menuju Surga.[3]
  2. Para malaikat akan menaungkan sayapnya untuk penuntut ilmu karena keridhaan mereka.

Para ulama telah berselisih pendapat ketika memaknai “para Malaikat meletakkan sayap-sayapnya”. Ada yang berpendapat sebagai bentuk ketawadhuan mereka kepada penuntut ilmu. Ada yang berpendapat mampir dan hadir di sisinya. Ada yang berkata sebagai bentuk pemuliaan dan pengagungan padanya. Ada pula berpendapat maknanya adalah para Malaikat itu membawanya di atasnya dan membantunya untuk mencapai tujuannya.[4]

  1. Bahwasannya seorang yang berilmu akan dimintakan ampun kepada Allah atas dosa-dosanya oleh seluruh penduduk jagat raya ini sampai pun ikan-ian yang ada di dasar air yang milyaran jumlahnya.

Ibnu Qudamah Al-Maqdisi –rahimahullah– menjelaskan, “Jika ada yang bertanya: ‘Kenapa ikan-ikan memintakan ampun untuk orang yang mengajarkan ilmu?’

“Jawabnya adalah: Bahwasannya manfaat ilmu itu merata sampai pun ikan-ikan. Karena para ulama mengetahui apa yang halal  dan yang haram. Dan mereka berpesan kebaikan kepada segala sesuatu sampai pada hewan sembelihan dan ikan. Maka Allah mengilhamkan kepada seluruhnya untuk memintakan ampun bagi mereka sebagai bentuk balasan kebaikan prilaku mereka.”[5]

  1. Bahwasannya penuntut ilmu adalam manusia terbaik.
  2. Bahwasannya penuntut ilmu adalah pewaris para Nabi –‘alaihimussalam-.

Ibnu Jama’ah –rahimahullah– menjelaskan[6], “Cukuplah bagimu derajat ini sebagai keagungan dan kebanggaan. Dan dengan derajat ini sebagai kemuliaan dan ketinggian. Maka sebagaimana tidak ada kedudukan di atas kedudukan kenabian, begitu pula tidak ada kemuliaan di atas kemuliaan pewaris kedudukan itu.”

 

  • Diriwayatkan dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam:

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ فَهُوَ فِي سَبِيْلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Siapa yang menuntut ilmu maka ia berada di jalan Allah sampai ia kembali.”[7]

 

  • Dari Abu Musa Al-Asy’ari –radhiyallahu ‘anhu-, dari Nabi –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, beliau bersabda:

“Perumpamaan Allah mengutusku dengan membawa petunjuk dan ilmu adalah laksana hujan yang menimpa bumi. Di antaranya ada sekelompok yang menerima air lalu tumbuhlah rumput dan tumbuhan yang banyak. Di antaranya ada yang gersang yang menahan air, maka Allah membuatnya bermanfaat bagi manusia dan mereka pun meminum, bercocok tanam, dan mengairi darinya. Dan (hujan itu juga) menimpa sekelompok darinya yang lain, yaitu tanah lapang yang licin yang tidak bisa menahan air dan tidak menumbuhkan rumput.

Itulah perumpamaan orang yang memahami agama Allah dan dia mendapat manfaat dari apa yang dengannya aku diutus, ia mengetahui dan mengajar. Dan perumpamaan orang yang tidak bisa mengangkat kepala dengan itu[8] dan tidak menerima petunjuk Allah yang dengannya aku diutus.”[9]

 

  • Dari Abu Hurairah –radhiyallahu ‘anhu-, bahwasannya Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

إِذَا مَاتَ ابْنُ آدَمَ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلِدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ

“Apa bila manusia wafat maka amalnya terputus kecuali tiga, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shalih yang mendoakan kebaikan untuknya.”[10]

 

  • Dari ‘Abdullah bin ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma-, beliau berkata, Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda:

إِذَا مَرَرْتُمْ بِرِيَاضِ الْجَنَّةِ فَارْتَعُوْا

“Jika kalian melewati taman Surga, maka mampirlah!”

Para shahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa taman Surga itu?”

Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– menjawab, “Halaqah-halaqah dzikir.”

Adalah ‘Atha menjelaskan, “Majlis-majlis dzikir adalah majlis halal & haram; bagaimana Anda membeli, menjual, shalat, puasa, menikah, mentalak, berhaji, dan semacamnya.”

Yang serupa dengan ini adalah perkataan Ibnu Mas’ud, “Apabila kalian melewati taman Surga, maka mampirlah! Aku tidak memaksudkan majlis-majlis para pendongeng, akan tetapi yang kumaksud adalah majlis-majlis fiqih.”

Ketika mentafsirkan ayat:

بِمَا كُنتُمْ تُعَلِّمُونَ الْكِتَابَ وَبِمَا كُنتُمْ تَدْرُسُونَ

“…karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.[11]

Adh-Dhahak berkata, “Inilah dia.” Yaitu Majlis mereka yang di dalamnya mereka mempelajari agama.[12]

 

  • Rasulullah –shallallahu ‘alaihi wa sallam– bersabda, “Dunia itu terlaknat, apa yang ada di dalamnya terlaknat kecuali dzikrullah dan yang menolongnya, atau seorang yang berilmu atau yang belajar.”[13]


[1] HR Al-Bukhari, Muslim, dan At-Tirmidzi.

[2] HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi. Sanadnya dinilai hasan oleh pentahqiq Jami’ Al-Ushul (VIII/6), ‘Abdul Qadir Al-Arnauth.

[3] Sebagian ulama menyimpulkan dari penggalan pertama hadits ini sebagai kabar gembira bagi penuntut ilmu akan diwafatkan dalam keadaan Islam –semoga Allah menjadikan kita bagian darinya-.

[4] Tadzkirah As-Sami’ wa Al-Mutakallim (hlm. 31).

[5] Mukhtashar Minhaj Al-Qashidin (hlm. 21), karya Ibnu Qudamah, tahqiq Zuhair Asy-Syawis.

[6] Tadzkirah As-Sami’ wa Al-Mutakallim (hlm. 29).

[7] HR At-Tirmidzi.

[8] Yaitu, tidak menyibukkan diri dengan agama dan tidak mempedulikannya. (At-Targhib wa At-Tarhib III/91).

[9] HR Al-Bukhari dan Muslim.

[10] HR Muslim.

[11] QS Alu ‘Imran: 79.

[12] Riwayat Ibnu Mas’ud dan riwayat ini direkam dalam Shahih Al-Faqih wa Al-Mutafaqqih (hlm. 12-13).

[13] HR At-Tirmidzi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s