Gerakan Wahhabi Masuk Keraton Mataram (± 1790)


Pembaharuan

Oleh : Buya Hamka -رحمه الله-

            Yang rata dikenal dalam sejarah tanah air Indonesia faham Wahabi yang telah tumbuh sebagai Tajdidul Islam (pembaharuan Islam, -pent), gerakan pembaharuan di pertengahan  abad ke-18, di dimulai di sebelah Timur Jazirah Arabia, muncul menembus ke tanah air kita ini, ialah di sekitar permulaan abad ke-19 (1803), dengan pulangnya tiga orang haji dari Mekah; Haji Miskin, Haji Piabang dan Haji Sumanik.

Mereka bertigalah yang membawa bibit faham Wahabi, yang kemudian bertumbuh menjadi Perang Paderi di Minangkabau.

Padahal faham Wahabi telah masuk terlebih dahulu ke tanah Jawa, ke dalam Kraton Surakarta Adiningrat sendiri, lebih dari 10 tahun sebelum haji-haji orang Minang itu pulang ke kampung halamannya; sekitar tahun1790.

Pemberontakan Trunojoyo telah dapat dihancurkan Belanda satu abad sebelumnya. Trunojoyo bertahan di sebelah Uatara Gunung Kelud ketika dia telah dikepung besar-besaran oleh tentara Kapten Jonker. Dan karena segala persiapan telah habis, pahlawan itu menyerah (27 Desember 1679). Dia dibunuh oleh Amangkurat II dengankerisnya sendiri, setelah dia menyerah. Kemudian tentara Belanda dan tentara Amangkurat II menyerbu Giri, pusat kaum agama.

Pangeran Giri keturunan Sunan Giri yang gagah perkasa, dapat ditawan lalu dihukum bunuh pula. Akhirnya menyerah pamannya yang turut berontak, Pangeran Puger. Tetapi meskipun musuh-musuhnya telah dapat dihancurkan semuanya, bertambah mengertilah Amangkurat II bahwa kekuasaannya bertambah lama bertambah ciut. Sebab itu tidak lama setelah menang, bertambah kentara dalam Amangkurat II kepada Belanda. Dia tidak menepati seluruh janjinya yang dipaksakan kepadanya tatkala dia terdesak. sikap beliau kian lama kian dingin terhadap Belanda.

Surapati dan Sunan Mas

Di zaman beliaulah timbul pemberontakan ke-2, sebagai lanjutan dari pemberontakan Trunojoyo. Yaitu timbulnya Pangeran Suropati, yang meninggalkan daerah “Betawi” (Jakarta) dan melindungkan diri sambil menyusun kekuatan di Kartasura; dilindungi oleh Amangkurat II karena dendamnya kepada Belanda.

Gerakan Suropati timbul kira-kira  1683, yaitu empat tahun saja sesudah tewasnya Trunojoyo. Amangkurat II tidak lagi memeranginya melainkan membiarkannya. Dan setelah Amangkurat II mangkat, (1703) puteranya dan penggantinya, Amangkurat II pun memelihara dendam ayahnya dan baginda pun membiarkan bahkan  membantu gerakan Surapati. Baginda terkenal sebagai Amangkurat Mas, yang disingkat dengan Sunan Mas. Baginda terang-terangan benci kepada Belanda.

Tetapi Belanda mulai memakai politik “Devide et em pera”, pecahkan dan kuasai! Perselisihan Sunan Mas dan pamannya Pangeran Puger timbul; Belanda dengan halus membangun Pangeran Puger. Beberapa Bupati yang dekat dengan Belanda menyokong Pangeran Puger. Pada tahun 1704 beliau dilantik oleh pengikut –pengikutnya jadi Susuhanan yang baru, diberi gelar Pakubowono I. Dan dengan bantuan Kompeni (1704) Pakubuwono I dapat mengalahkan Sunan Mas (Amangkurat III) dan merebut istana Kartasura dan naik takhta sekali menduduki takhta kemenakannya.

Kompeni Menjanjikan kalau Sunan Mas menghentikan perlawanan dan masuk ke daerah kekuasaan Kompeni, beliau akan diperlakukan dengan baik. Melihat kekuasaannya tidak ada lagi dan istananya telah direbut, dia pun menyerah kepada Belanda.  Tetapi janji akan memperlakukannya dengan baik itu tidaklah ditepati oleh Belanda. Setelah jadi tahanan politik bebrapa lamanya, pada tahun 1708 baginda diasingkan ke Pulau Sailan.

Naiknya Pakubuwono I, karena banyaknya pertolongan Kompeni menyebabkan beberapa daerah dituntut lagi oleh kompeni.

Perang saudara, hancur menghancurkan, Kompeni juga yang untung. Sehingga kebencian kepada Kompeni itu jadi merata.  Bila seorang raja mangkat, Kompeni mesti ikut campur tangan dengan halus agar yang menggantikan hendaklah orang yang disukainya, walaupun orang-orang besar kurang senang. . banyak orang-orang besar dibuang ke Afrika Selatan (Tanjung Pengharapan), dan banyak yang dibuang ke Pulau Sailan. Namun rasa tidak senang tetap bagai api dalam sekam.

Pecahnya Mataram jadi dua, yang terkenal dengan Babad Gianti (Februari 1755), ialah karena Pangeran Mangkubumi dan Mas Said melawan Susuhanan yang telah dianggap di bawah kekuasaan Belanda.[1]

Bersambung pada artikel “Gerakan Wahabi” oleh penulis yang sama. Wallahua’lam.

Selesai disalin tepat antara Maghrib dan ‘Isya, 19:25,  20 Februari 2014 di Pondok Gede, Bekasi, Jawa Barat.


[1] Perkembangan Kebatinan di Indonesia (Bulan Bintang  1971, hal. 66-68)  oleh Fadhilatul Ustadz Dr. Abdul Malik [bin] Abdul Karim [bin] Amrullah Al-Minangkabawi atau yang lebih akrab disapa dengan Buya Hamka –rahmatullah ‘alaih-.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s