Ulama Mujahid, Asrsyad Thawil


Jihad

Agaknya tokoh yang satu ini masih terasa asing di telinga penduduk negeri ini, setidaknya untuk dekade dewasa ini. Namun tidak demikian di telinga penduduk Timur Tengah. Lantas siapakah gerangan tokoh ini? Berikut adalah riwayat singkat hidupnya.

Nama lengkap beliau adalah Asy-Syaikh Al-Faqih Arsyad bin As’ad bin Mushthafa bin As’ad, yang lebih kondang dengan sapaan Ath-Thawil, Al-Bantani Al-Jawi kemudian Al-Makki.

Pada tanggal 12 Dzul Qa’dah tahun 1255 H atau 1829 H tokoh ini dilahirkan ke dunia, tepatnya di sebuah desa Munis, salah satu daerah di Banten.

Sejak usai dini ia telah menekuni Al-Quran dangan membaca dan menghafalnya. Saat usianya menginjak 6 tahun ayahnya mengirimnya ke Makkah, yang bertepatan dengan tahun 1263 H. Di saat itu juga ia masih berkesempatan bertemu dengan Syaikh ‘Utsman bin Hasan Ad-Dimyathi yang wafat pada tahun 1263 H. Pertemuannya itu dimanfaatkan ayahnya, Syaikh As’ad bin Mushthafa Al-Bantani, untuk memintakan ijazah sanad kepada Syaikh ‘Utsman untuk buah hatinya itu.

Syaikh As’ad bin Mushthafa Al-Bantani sangat perhatian dengan pendidikan anaknya. Ia pun menyisihkan sebagian waktunya yang berharga untuk mendidiknya. Karena itu, Asrsyad Ath-Thawil berhasil menyelesaikan hafalan Al-Qurannya di tangan sang ayah. Selain itu, ia juga mempelajari dasar-dasar ilmu, fiqih, dan nahwu dari ayahnya.

Adalah Sayyid Ahmad bin Zaini Dahlan merupakan salah seorang ulama yang banyak ia dihadiri pelajaran-pelajarannya di Masjidil Haram. Di antara pelajarannya itu adalah disiplin ilmu fiqih, nahwu, dan sirah nabawiyyah.

Ulama lain yang juga pengajian-pengajiannya kerap dihadiri adalah pengajiannya Syaikh Muhammad Nawawi bin ‘Umar Al-Bantani dan mebacakan kitab kepada Al-Faqih Abu Bakar Syatha Ad-Dimyathi.

Membacakan kitab hadits kepada Syaikh Muhammad bin Husain Al-Habsyi Al-Makki dan putranya, Syaikh Husain bin Muhammad Al-Habsyi.

Juga membacakan fiqih kepada Syaikh Muhammad bin Sulaiman Hasbullah Al-Makki.

Tidak hanya belajar di Makkah, Syaikh Arsyad Ath-Thawil juga melawat ke kota Nabi Muhammad –shallallahu ‘alaihi wa sallam-, Madinah. Berulang kali menunaikan ibadah haji dan mengambil ijazah sangat sangat banya dari para ulamanya dan juga kepada ulama-ulama yang mendatanginya dari seluruh penjuru negeri Timur dan Barat.

Setelah sekian lama menuntut ilmu dari sejumlah ulama, Syaikh Arsyad Ath-Thawil pun membuka pengajian sendiri. Di antara pelajaran yang beliau sampaikan adalah fiqih, nahwu, dan ushul. Beliau telah meluluskan sejumlah ulama dan penuntut ilmu melalui pengajiannya itu.

Suatu ketika Syaikh Arsyad Ath-Thawil pernah ditanya tentang perihal julukannya “Ath-Thawil”. Lantas beliau menjawab, “Adalah di Makkah terdapat dua laki-laki yang termasuk syaikh jama’ah haji Jawa. Salah satunya bernama Arsyad bin Muhammad yang berperawakan pendek dan yang satunya lagi adalah aku sendiri yang berperawakan tinggi. Maka jadilah para jama’ah haji itu jika mendatangi Jeddah dan jika ada orang yang menanyai mereka, ‘Di mana kalian akan bersinggah?,’ mereka akan menjawab, ‘Di tempatnya Arsyad Ath-Thawil.’ Atau kalau mereka bersinggah di tempat kawanku, mereka akan menjawab, ‘Di tempatnya Arsyad Al-Qashir.’”

Pada tahun 1311 H, Syaikh Arsyad mengadakan perjalanan ke Jawa dalam rangkan menengok keluarganya. Namun ketika masuk ke kota Banten, terjadilah peristiwa antara kaum muslimin dan kaum kuffar dari kalangan penganut agama Budha. Maka pemerintah Belanda pun turut ikut campur dalam peristiwa itu untuk mendamaikan namun tidak dengan keadilan dan lebih condong ke orang-orang kafir Budha. Ketika tokoh-tokoh kaum muslimin melihat ketidakadilan dan kecondongan pemerintah Belanda kepada kaum kuffar Budha, kaum muslimin pun segera mengangkat senjata untuk melawan seluruh kaum kuffar. Akibat peprangan hebat itu, kaum muslimin berhasil membunuh kaum kuffar yang tidak sedikit jumlahnya. Maka Belanda pun geram sehingga mereka mendatangkan dan mengumpulkan kekuatan yang lebih besar lagi guna menundukkan kaum muslimin.  Dari situ, banyak tokoh dari kalangan kaum muslimin yang ditangkap, dipenjarakan, dan dibuang, salah satunya adalah Syaikh Arsyad bin As’ad Ath-Thawil yang diasingkan ke Menado dibawah pengawasan.

Tidak jarang Syaikh Arsyad Ath-Thawil berusaha kembali ke Makkah atau ke Banten menemui sanak saudaranya, namun setidak jarang itu pula beliau tidak mampu karena tekanan dari pemerintah Belanda.

Beliau banyak memberikan pelajaran kepada manusia di masjid-masjid dan mengajar fiqih, nahwu, dan sharaf. Oleh karena itu, beliau pun menjadi tenar sehingga dilantik menjadi qadhi.

Di antara sifat yang dimiliki Syaikh Arsyad bin As’ad Ath-Thawil adalah berwawasan luas, kaya ilmu, penebar ilmu, bagus dalam menyampaikan ceramah, suka bercanda, berakhlak mulia, dan hafal banyak hal asing dan hikayat yang tak terhitung.

Beliau juga memiliki sebuah karya besar berupa tsabat yang merupakan ensiklopedia guru-guru dan riwayat-riwayatnya.

Pada hari Senin 04 Dzul Hijjah tahun 1305 H atau yang bertepatan dengan 1935 M setelah selama 50 tahun melalang buana di negeri sebentar ini, akhirnya beliau menyambut panggilan Allah ‘Azza wa Jalla ke negeri maha kekal.[1]


[1] Mausu’ah A’lam Al-Qarn Ar-Rabi’ ‘Asyar wa Ar-Rabi’ ‘Asyar (III/821-823) dengan bebas yang dinukil dari Tasynif Al-Asma’ (hlm. 90-92) dengan perubahan.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s